Banten

'Saya Memilih Tak Berkhianat!' Cerita Menggetarkan Maman Abdurrahman Saat Menolak Gembosi Airlangga Hartarto

Abdurahman | 26 Mei 2026, 13:54 WIB
'Saya Memilih Tak Berkhianat!' Cerita Menggetarkan Maman Abdurrahman Saat Menolak Gembosi Airlangga Hartarto
Menteri UMKM Maman Abdurrahman saat menjadi narasumber dalam acara Gebyar Perkumpulan Orang Tua Anak Disabilitas Indonesia (Portadin) di Jakarta (Foto: Fraksi Golkar)

AKURAT BANTEN– Dinamika internal Partai Golkar selalu penuh dengan intrik dan pergeseran kekuasaan yang cepat.

Namun, di balik riuhnya panggung politik, ada sebuah kisah tentang prinsip, etika perkawanan, dan loyalitas yang jarang terungkap ke publik.

Cerita menggetarkan ini datang langsung dari mulut Menteri Koperasi dan UMKM, Maman Abdurrahman.

Saat hadir di podcast Refly Harun, mantan Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti ini secara blak-blakan membongkar rahasia dapur politiknya saat badai melanda kepemimpinan Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu.

Di saat arah angin kekuasaan mulai berpindah, Maman mengambil keputusan yang di luar dugaan banyak orang: ia memilih bertahan dan menolak ikut menggembosi sang ketua umum.

Baca Juga: Heboh! Dokter Tifa Ungkap Sosok Peneliti yang Mengaku Diancam 'Potong Leher' Usai Bongkar Sesuatu tentang Jokowi

Membaca 'Kehendak Langit' di Tengah Pragmatisme Politik

Sebagai politisi muda yang memiliki karier moncer, Maman Abdurrahman sebenarnya bukan orang naif.

Ia mengaku paham betul cara membaca situasi politik di tingkat atas.

Ketika posisi Airlangga Hartarto mulai terjepit, secara pragmatis Maman punya modal besar untuk langsung 'melompat pagar' mengamankan posisinya ke kubu Bahlil Lahadalia.

Namun, alih-alih ikut berselancar di atas angin pragmatisme, pria asal Kalimantan Barat ini memilih jalan sunyi yang sarat risiko politik.

Secara etika moral, rasanya kurang pas kalau saya ujuk-ujuk tiba-tiba melompat, walaupun saya tahu kekuasaan waktu itu sudah tidak berpihak ke Pak Airlangga. Saya bukan orang bodoh, saya paham juga membaca kehendak langit ini bagaimana. Tapi bagi saya, ini urusan etik, faktor perkawanan, dan prinsip tidak lupa kacang pada kulitnya, ungkap Maman dengan nada tegas dan berwibawa.

Baca Juga: Babak Akhir Kasus Ijazah Jokowi: Dr. Tifa dan Roy Suryo di Ujung Tanduk! Akankah Dipenjara?

Kalimat Sakti yang Mengetuk Hati Bahlil Lahadalia

Keputusan Maman untuk tetap setia pada Airlangga tentu memicu ketegangan.

Ia pun memilih untuk menghadapi Bahlil Lahadalia secara ksatria, dari hati ke hati.

Dalam pertemuan penuh emosi tersebut, Maman melontarkan sebuah analogi yang langsung menusuk kesadaran Bahlil.

Sebuah kalimat sakti yang justru mengubah ketegangan menjadi momen haru.

Bang, andaikan hari ini saya putuskan mendukung Abang (untuk menggantikan Airlangga), lalu Abang bisa membayangkan suatu hari nanti Abang jadi Ketua Umum, 4 atau 5 tahun lagi saya memperlakukan hal yang sama kepada Abang demi orang lain?

Mendengar ucapan jujur itu, Bahlil tidak naik pitam. Sebaliknya, ia tertegun melihat integritas politisi muda di hadapannya.

Bang Bahlil langsung peluk saya. Dia bilang, 'Sudah Dinda, kau pertahankan keputusan kau. Abang hargai itu.' Ya sudah, saya jalan waktu itu begitu, kenang Maman.

Sikap ksatria ini terbukti berbuah manis. Ketika transisi kepemimpinan akhirnya terjadi dan Bahlil resmi menakhodai Golkar, aspek dinamika internal partai dipisahkan dari penilaian kompetensi.

Bahlil justru mengusulkan nama Maman kepada Presiden Prabowo Subianto untuk masuk ke dalam jajaran Kabinet Merah Putih.

Baca Juga: Terungkap! Modus Pig Butchering di Solo Baru Jawa Tengah, Kerugian Tembus Rp 41 Miliar

Memikul Beban Moral Sebagai 'Etalase' Aktivis Kampus

Kini, duduk di kursi menteri pada usia 45 tahun, Maman mengaku tidak ingin jemawa.

Baginya, jabatan ini adalah puncak gunung es dari tanggung jawab moral yang luar biasa besar.

Ia merasa dirinya adalah perwakilan atau 'etalase' bagi generasi aktivis intrakampus pasca-era 1998.

Maman sadar, ribuan pasang mata adik-adik angkatannya di dunia organisasi sedang mengawasi setiap gerak-geriknya.

Beban saya ini besar, Bang. Kalau saya gagal atau terperosok masuk ke dalam jurang (hukum), saya mendelegitimasi dan mendemoralisasi adik-adik di belakang saya yang melihat saya sebagai simbol. Makanya, saya harus sukses mempertahankan kepercayaan ini.

Di akhir bincang-bincang, Maman pun menyampaikan pesan terbuka kepada publik dan para pengamat untuk tidak segan mengontrol kinerjanya di kementerian, demi menjaga marwah dan idealisme yang ia bawa dari jalanan hingga ke kursi kabinet.

Kisah Maman Abdurrahman menjadi bukti langka di era modern: bahwa di dalam politik yang kerap dianggap kotor, keteguhan etika dan loyalitas ternyata masih memiliki tempat yang terhormat.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman