'Saya Memilih Tak Berkhianat!' Cerita Menggetarkan Maman Abdurrahman Saat Menolak Gembosi Airlangga Hartarto

AKURAT BANTEN– Dinamika internal Partai Golkar selalu penuh dengan intrik dan pergeseran kekuasaan yang cepat.
Namun, di balik riuhnya panggung politik, ada sebuah kisah tentang prinsip, etika perkawanan, dan loyalitas yang jarang terungkap ke publik.
Cerita menggetarkan ini datang langsung dari mulut Menteri Koperasi dan UMKM, Maman Abdurrahman.
Saat hadir di podcast Refly Harun, mantan Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti ini secara blak-blakan membongkar rahasia dapur politiknya saat badai melanda kepemimpinan Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu.
Di saat arah angin kekuasaan mulai berpindah, Maman mengambil keputusan yang di luar dugaan banyak orang: ia memilih bertahan dan menolak ikut menggembosi sang ketua umum.
Membaca 'Kehendak Langit' di Tengah Pragmatisme Politik
Sebagai politisi muda yang memiliki karier moncer, Maman Abdurrahman sebenarnya bukan orang naif.
Ia mengaku paham betul cara membaca situasi politik di tingkat atas.
Ketika posisi Airlangga Hartarto mulai terjepit, secara pragmatis Maman punya modal besar untuk langsung 'melompat pagar' mengamankan posisinya ke kubu Bahlil Lahadalia.
Namun, alih-alih ikut berselancar di atas angin pragmatisme, pria asal Kalimantan Barat ini memilih jalan sunyi yang sarat risiko politik.
Secara etika moral, rasanya kurang pas kalau saya ujuk-ujuk tiba-tiba melompat, walaupun saya tahu kekuasaan waktu itu sudah tidak berpihak ke Pak Airlangga. Saya bukan orang bodoh, saya paham juga membaca kehendak langit ini bagaimana. Tapi bagi saya, ini urusan etik, faktor perkawanan, dan prinsip tidak lupa kacang pada kulitnya, ungkap Maman dengan nada tegas dan berwibawa.
Baca Juga: Babak Akhir Kasus Ijazah Jokowi: Dr. Tifa dan Roy Suryo di Ujung Tanduk! Akankah Dipenjara?
Kalimat Sakti yang Mengetuk Hati Bahlil Lahadalia
Keputusan Maman untuk tetap setia pada Airlangga tentu memicu ketegangan.
Ia pun memilih untuk menghadapi Bahlil Lahadalia secara ksatria, dari hati ke hati.
Dalam pertemuan penuh emosi tersebut, Maman melontarkan sebuah analogi yang langsung menusuk kesadaran Bahlil.
Sebuah kalimat sakti yang justru mengubah ketegangan menjadi momen haru.
Bang, andaikan hari ini saya putuskan mendukung Abang (untuk menggantikan Airlangga), lalu Abang bisa membayangkan suatu hari nanti Abang jadi Ketua Umum, 4 atau 5 tahun lagi saya memperlakukan hal yang sama kepada Abang demi orang lain?
Mendengar ucapan jujur itu, Bahlil tidak naik pitam. Sebaliknya, ia tertegun melihat integritas politisi muda di hadapannya.
Bang Bahlil langsung peluk saya. Dia bilang, 'Sudah Dinda, kau pertahankan keputusan kau. Abang hargai itu.' Ya sudah, saya jalan waktu itu begitu, kenang Maman.
Sikap ksatria ini terbukti berbuah manis. Ketika transisi kepemimpinan akhirnya terjadi dan Bahlil resmi menakhodai Golkar, aspek dinamika internal partai dipisahkan dari penilaian kompetensi.
Bahlil justru mengusulkan nama Maman kepada Presiden Prabowo Subianto untuk masuk ke dalam jajaran Kabinet Merah Putih.
Baca Juga: Terungkap! Modus Pig Butchering di Solo Baru Jawa Tengah, Kerugian Tembus Rp 41 Miliar
Memikul Beban Moral Sebagai 'Etalase' Aktivis Kampus
Kini, duduk di kursi menteri pada usia 45 tahun, Maman mengaku tidak ingin jemawa.
Baginya, jabatan ini adalah puncak gunung es dari tanggung jawab moral yang luar biasa besar.
Ia merasa dirinya adalah perwakilan atau 'etalase' bagi generasi aktivis intrakampus pasca-era 1998.
Maman sadar, ribuan pasang mata adik-adik angkatannya di dunia organisasi sedang mengawasi setiap gerak-geriknya.
Beban saya ini besar, Bang. Kalau saya gagal atau terperosok masuk ke dalam jurang (hukum), saya mendelegitimasi dan mendemoralisasi adik-adik di belakang saya yang melihat saya sebagai simbol. Makanya, saya harus sukses mempertahankan kepercayaan ini.
Di akhir bincang-bincang, Maman pun menyampaikan pesan terbuka kepada publik dan para pengamat untuk tidak segan mengontrol kinerjanya di kementerian, demi menjaga marwah dan idealisme yang ia bawa dari jalanan hingga ke kursi kabinet.
Kisah Maman Abdurrahman menjadi bukti langka di era modern: bahwa di dalam politik yang kerap dianggap kotor, keteguhan etika dan loyalitas ternyata masih memiliki tempat yang terhormat.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Mahfud MD Bikin Geger! 'Dicari Sampai Mati Pun Tak Akan Ada Ijazah', Ini Penjelasannya soal Gibran
- 2Anies, Ganjar, dan Mahfud Bakal Masuk Istana? Wacana Pemakzulan Gibran Ikut Jadi Sorotan
- 3Denny Indrayana Soroti Sikap Megawati soal Gibran, PDIP Bakal Bergerak atau Pilih Diam?
- 4Duet Dedi Mulyadi-Purbaya Jadi Sorotan! Syahganda Singgung Pilihan Mengejutkan Purbaya
- 5Mahfud MD Jelaskan Beda Pemakzulan dan Pidana dalam Kasus Gibran, Ini Tahapan Hukumnya!
- 6Nasabah BTN Klaim Dana Rp17 Miliar Bermasalah, Setiap Rp1 Miliar Masuk Saldo Disebut Tersisa Rp100, Ada Apa?
- 7Miris! 21 Tahun Jadi Pemulung, Lansia Ini Tak Tahu Punya Uang Pensiun Rp1,1 Miliar
- 8Terkenal Vokal, Ini Strategi Baru Abah Saiful Milah Usai Resmi Duduki Kursi Ketua DPRD Kota Tangerang
- 9Anies, Ganjar, dan Mahfud Bakal Masuk Istana? Wacana Pemakzulan Gibran Ikut Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Jelaskan Beda Pemakzulan dan Pidana dalam Kasus Gibran, Ini Tahapan Hukumnya!



